Air Terjun Lubuk Batang, Pesona Tempat Wisata Lima Puluh Kota

Nyatanya, air terjun juga menjadi primadona tempat wisata Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Sama dengan kabupaten/ kota lainnya di ranah minang ini, kabupaten ini banyak menyimpan destinasi-destinasi dengan pesona yang menarik.

Apalagi dengan perkembangan tren media sosial yang semakin melaju, destinasi – destinasi wisata baru bermunculan di setiap daerah. Termasuk salah satunya yang viral di Instagram, Air Terjun Lubuk Batang. Lokasinya berada di kawasan Kapur IX, Pangkalan, Kab. 50 Kota Sumatera Barat. Tempat yang menawarkan pesona dan sisi lain dari Kapur IX. Destinasi ini tentunya juga menambah jumlah destinasi air terjun (sarasah) yanga ada di provinsi Sumatera Barat. Negeri ranah minang yang selalu tampil dengan keasrian, menarik dengan keindahan alam dan elok warganya.

Menarik pula, karena sarasah ini tergolong unik, karena diapit oleh dua batu besar yang membuat destinasi ini lebih indah jika dibandingkan beberapa air terjun lainnya. Belum lagi pasir putih berbisik pada dasarnya yang membuat lokasinya layaknya pantai.

Air Terjun Lubuk Batang, Pesona Tempat Wisata Lima Puluh Kota

Saya kembali melakukan perjalanan untuk bisa menelusuri destinasi viral ini. Hanya berjarak lebih kurang sekitar 140 KM dari Kota Pekanbaru atau sekitar lebih kurang 4 – 5 jam, saya menggunakan motor kamen rider Karisma 125 CC saya. Berdua bersama Ifan yang juga sudah beberapa kali menemani saya menjelajah di berbagai lokasi wisata lainnya. Penggunaan motor bebek ini juga melalui berbagai pertimbangan setelah membaca bebrapa artikel dan informasi teman yang sudah duluan hadir di tempat itu. Medan yang dilalui cukup melelahkan karena harus masuk ke perkebunan warga dan melewati rintangan medan khusus untuk motor Trail atau motor biasa yang memiliki bodi motor lebih tinggi. dan sudah jelas-jelas tidak disarankan untuk menggunakan sepeda motor matic. Sedangkan bagi teman – teman yang menggunakan mobil harus memarkirkan kendaraannya jauh dari pintu masuk air terjun ini. Dan melanjutkan dengan menyewa ojek untuk bisa sampai ke destinasi indah ini.

Sebaliknya jika teman-teman yang berasal dari arah kota Bukittinggi hingga Padang, jarak yang ditempuh lebih lama lagi. Setidaknya waktu yang ditempuh menjadi lebih kurang 200 KM saja. Tetapi saya rasa hal-hal sepertu itu tidak menjadi perhitungan, karena tujuan kita memang untuk bisa menikmati tempat indah ini.

Rute perjalanan melewati jalan nasional, hingga memasuki Kapur IX. Sepanjang perjalanan, kami hanya melihat kebun sawit yang tersusun rapi, juga banyak pohon-pohon karet. Bahkan kami juga melihat banyaknya gambir yang sedang dijemur, dimana bahan alami ini menjadi mata pencaharian masyarakat lokal. Terus jalan hingga sampai gerbang masuk lokasi air terjun di Koto Bangun. Tak perlu ragu, sebab sudah ada spanduk yang memberikan informasi mengenai tempat wisata Lima Puluh Kota ini.

Air Terjun Lubuk Batang, Pesona Tempat Wisata Lima Puluh Kota
Spanduk penunjuk lokasi

Tantangan medan berat baru mulai saat meninggalkan gerbang tadi. Untuk diketahui jika menggunakan kendaraan roda empat, harus memarkirkan dan mengganti dengan ojek (dengan membayar Rp. 50.000 PP) atau bisa berjalan kaki lebih kurang 2 Jam. Selanjutnya berawal dengan perubahan jalan aspal ke jalan berbatu yang membuat perut saya berguncang dengan lucunya. Lalu dilanjutkan dengan medan pendakian ekstrem dengan jalur yang terus mengecil. Medan ini sendiri bercampur dengan semen batu yang memang dibuat warga agar jalur yang dilalui sedikit lebih baik. Tetapi tetap saja tidak mengurangi bahaya jalanan ini, sebab masih ada akar-akar pohon yang memang harus diwaspadai. Ini juga yang menjadi alasan tidak boleh menggunakan sepeda motor matic. Selain lebih rendah juga bisa menyulitkan traveler yang mengendarai.

Air Terjun Lubuk Batang, Pesona Tempat Wisata Lima Puluh Kota
Jembatan gantung sebagai penghubung

Perjalanan terus saya lanjutkan sampai menempuh jarak 4 KM menuju destinasi tersebut. Selama dalam perjalanan juga tampak bekas – bekas pembukaan lahan oleh warga. Tampak pula adanya bekas kebakaran hutan yang membuat perjalanan kami saat itu menjadi kurang nyaman. Debu yang lalu lalang plus pada saat musim kemarau. Perjalanan tetap kamu teruskan hingga menemui sebuah jembatan gantung. FYI, jembatan ini merupakan satu-satunya akses untuk bisa sampai ke air terjun lubuk batang.

Air Terjun Lubuk Batang, Pesona Tempat Wisata Lima Puluh Kota
Pose andalan

Kami kembali membuat gas tinggi agar kami segera sampai di tujuan, Medan jalan naik turun disamping berjalan dengan sisi kiri kanan jurang, juga melewati jembatan kayu yang sempat membuat kami ragu. Tetapi untuk tersesat rasanya tidak mungkin, sebab banyak penunjuk jalan yang dibuat warga hingga sampai ke destinasi indah itu. Sampai akhirnya kami bersua dengan titik terakhir dari jalur motor ini, sebuah pondak yang dibuat sedemikian oleh warga, dengan dagangan seadanya dan menjadi tempat parkir kami. Untuk memarkirkan kendaaran, cukup membayar biaya Rp. 5000 saja.

Air Terjun Lubuk Batang, Pesona Tempat Wisata Lima Puluh Kota
Banyaknya penebangan hutan secara liar

Saya dan Ifan lalu melanjutkan perjalanan yang ditempuh tak sampai 10 menit. Turun perlahan lahan melewati medan tanah sedikit licin. Lucunya saya sempat terpeleset dan menjadi bahan bulian Ifan saat itu. Terus turun ke bawah hingga terdengar suara rintihan eh suara sarasah Lubuk Batang. Dari kejauhan pula terlihat pasir putih yang sudah kami dengar sebelumnya, beserta dua bukit yang mengapit erat air terjun. Walaupun memang tak bisa dipungkiri saat itu sedang musim kemarau yang membuat debit airnya sedikit berkurang.

Air Terjun Lubuk Batang, Pesona Tempat Wisata Lima Puluh Kota
Mantap !

Selanjutnya tentu saja berswa foto, tapi lagi-lagi saya dan Irfan tertawa kembali. Saya tidak membawa memory card di dalam kamera DSLR yang saya bawa. Sedangkan kamera smartphone belum mumpuni atau biasa saja. Sempat bingung, tapi keberuntungan memihak saya waktu itu. Ada seorang pengunjung yang menawarkan untuk meminjamkan adapter memory card. Sehingga saya bisa menggunakan adapter tersebut dengan memory card smartphone yag saya miliki. Alhamdulillah saya dan Ifan bisa ikutan mengabadikan dan mendokumentasikan indahnya destinasi ini. Saya juga sempat naik ke atas batu dengan memutar jalan untuk melihat bagaimana debit air sungai tersebut.

Tentunya kesempatan dalam meminjam adapter tersebut membuat kami banyak berfoto. Tapi ya terkadang, pas kita ambil bagus, si Ifan ngambilnya keterlaluan. Jadinya, foto yang dihasilkan membuat kami tertawa.

Dari semua keindahan itu ada pula kesedihan yang harus saya rasakan. Banyak bebatuan atau dinding-dinding tebing yang dicoret oleh oknum-oknum pengunjung. Saya sangat membenci tindakan vandalisme di objek-objek wisata dan please jangan coret -coret serta jangan buang sampah sembarangan. Alam memberikan tempat ini untuk anak cucu kita nanti nikmati juga. Jadi untuk memelihara dan menjaga itu penting. Apabila memang tidak ada tempat untuk membuang sampah, silakan dibawa kembali.

Air Terjun Lubuk Batang, Pesona Tempat Wisata Lima Puluh Kota
Larangan mencoret

Mudah mudahan cerita singkat perjalanan menjelajah tempat wisata Lima Puluh Kota, Air Terjun Lubuk Batang ini bisa menghibur teman-teman atau menjadi pelecut diri untuk melakukan perjalanan melewati alam. Jangan lupa baca juga artikel saya saat berkelana ke Air Terjun Batang Marambuang. Salam Olahraga !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *