Perjuangan!!, Air Terjun Sipagogo Ujung Gading Pasaman Barat

Keinginan untuk menjelajah di air terjun Sipagogo Ujung Gading Pasaman Barat saat itu sudah memuncak. Sebab, sebelumnya saya dan beberapa teman tidak berhasil menelusuri destinasi tersembunyi ini. Saat itu hujan deras mengubah planning kami untuk pergi ke lokasi yang jaraknya hampir 11 jam sekitar 108 KM dari Pekanbaru itu, padahal 85% misi hampir sampai.

Sekitar 2 tahun setelah itu, akhirnya saya dan teman yang berbeda mendapatkan kesempatan pada 19 Oktober 2019 lalu. Berangkat pada jumat 18 Oktober dari Pekanbaru menuju kampung halaman saya di Matur, Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Dan besok paginya saya baru berangkat menuju kawasan paling ujung dari Pasaman Barat tersebut. Dengan menggunakan 2 motor matic menuju jalur jalan berbatu di dalam perkebunan sawit.

Tentang Air Terjun Sipagogo Ujung Gading Kabupaten Pasaman Barat

Kecintaan saya terhadap destinasi air ini terus meningkat, apalagi di Provinsi yang menjunjung “Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah” ini tak henti-hentinya menunjukkan bagaimana ciptaan ALLAH SWT lewat alamnya nan indah.

Salah satunya berada di Situak Nagari Ujung Gading Kec. Lembah Melintang Kab. Pasaman Barat, Sumatera Barat dengan pesona alam tersembunyinya. Pesona alam nan indah tersebut berwujud sebuah air terjun/ teladas dengan warna biru yang membuat siapapun terkesima.

Dari beberapa informasil valid di internet dan beberapa jawaban warga lokal saat saya menelusuri destinasi ini, diketahui pula jika sebelumnya tak ada yang mengetahui bagaimana ada lokasi ini. Berawal dari masyarakat setempat yang tak sengaja mencari rotan saat itu lalu menemukan teladas dengan aliran biru jernih. Uniknya meski telah ditemukan sudah lama, namun aliran air yang melewati jeram dan jatuh bebas ke dasar sungai ini tak lantas langsung terkenal. Dengan adanya media sosial barulah tempat menarik ini menjadi lirikan para wisatawan lokal dan Sumbar. Semenjak itu barulah mulai terkenal dan banyak orang mencari cara untuk bisa ke lokasinya.

Sampuran Situak Lotok Sipagogo merupakan nama air terjun ini pada awalnya, lalu dengan seiringnya berjalan waktu lebih dikenal dengan Air Terjun Sipagogo. Nama Sipagogo sendiri memiliki arti sendiri bagi warga setempat yang berarti nama dari seorang tokoh yang katanya merupakan orang sakti yang sering bertapa di destinasi tersebut. Nama tokoh itulah yang bernama Sipagogo dan kemudian menjadi nama resmi dari lokasi yang indah itu.

Perjalanan Menuju Tempat Wisata Pasaman Barat

Untuk bisa melihat secara langsung, saya harus menggeber motor saya menuju Situak, Ujung Gading, Lembah Malintang, Kabupaten Pasaman Barat, Pronvisi Sumatera Barat. Jika dilihat dari GPS-nya Google, jarak yang harus saya tempuh sekitar 4-5 jam (182 KM).

Air Terjun Sipagogo Ujung Gading Pasaman Barat
Menggunakan GPS

Pagi-pagi sekali sekitar setengah enam, saya, Ory dan bang Anton sudah berangkat dengan berharap bisa cepat sampai serta tidak terlalu siang. Di udara sejuk menggunakan motor, saya dan teman-teman terus melanjutkan perjalanan, dan alhamdulillah sangat cerah. Berpedoman dengan peta dari Google tesebut akhirnya sekitar pukul 10.00 kami masuk ke Ujung Gading.

Kami terus berjalan hingga sampai di sekitar pasar Ujung Gading lalu belok kanan ke Jalan Jawa. Dari simpang tersebut kami terus berjalan mengikuti gps ditemani dengan jalan kecil dengan sisi hutan sawit, hingga jalan akhir hilang di Pasar Situak.

Dari pasar tersebut, jalur yang kami lalui lebih berat karena berbatu kasar. Biasanya kendaraan yang melalui jalur ini adalah truk-truk besar membawa muatan sawit atau motor-motor bebek yang sudah dimodifikasi menggunakan ban trail. Sedangkan kami menggunakan matic dengan ban bawaan, hasilnya ya lumayan cukup bergoncang.

Perjalanan kami terus masuk ke dalam hutan yang bercampur sawit. Medan jalan yang berbatu, licin plus tanah kuningnya membuat kami kocar kacir. Semakin dalam pula semakin hilang sinyal GPS membuat kami hampir tersesat hingga pada akhirnya kami bertanya kepada warga lokal yang sedang melintas. Setelah mendapatkan informasi kami kembali melanjutkan perjalan menanjak hingga sampai di simpang empat dalam hutan sawit di mana ada bak penampungan dari PDAM, lalu belok kiri.

Langit tiba-tiba berubah menjadi mendung tapi tak hujan, membuat kami semakin mempercepat perjalanan kami. Terus berjalan terlihat anak panah yang menunjukan jalur menuju lokasi, dan terus kami ikuti. Menyebrang jembatan lama hingga pada akhirnya sampai di lokasi perumahan pekebun sawit. Dari tempat itu kami lalu di stop.

Terkejut, tapi ternyata warga tersebut ingin bertanya tujuan kami. Setelah kami utarakan, lalu warga tersebut menjawab dan membuat kami kecewa. Ya kecewa… sebab jawabannya adalah jalan kami selanjutnya putus. Tak bisa dilewati kendaraaan apa pun. Jauh-jauh dari Pekanbaru pada akhirnya saya harus kembali gagal dan tidak bisa mengunjungi destinasi cantik ini.

Ory dan bang Anton pun lalu turun melihat secara langsung bagaimana kondisi jalan putus tersebut, lalu memberitahukan hal ini kepada saya. Sungguh kecewa, tapi saya harus bisa mengunjung air terjun itu saat itu juga. Tak ada lagi waktu untuk mengulangi kembali, tak ada lagi mungkin kesempatan untuk bisa menujut tempat ini.

Dengan berusaha, saya kembali bertanya kepada warga perihal jalan alternatif menuju tempat wisata Pasaman Barat ini. Sempat terdiam, pada akhirnya warga tersebut memberitahu jika satu-satunya jalan adalah memutar melewati jalan kebun sawit baru yang membutuhkan waktu lebih lama. Karena saya sudah kepalang tanggung, saya berusaha membujun warga tersebut, hingga warga lainnya ikut datang menemui kami.

Kumpulan warga tersebut mengatakan jalan yang diakses lebih susah karena melewati tanah kuning berbukit dan menurun juga lunak karena air hujan. Yang membuat mereka khawatir tentu saja motor yang kami bawa saat itu. Tetapi kami tetap tak peduli, termasuk saya terus berusaha membujuk warga untuk memberi tau kemanakah jalan yang harus kami lalui. Dengan alasan ini yang kedua kali ditambah dengan kami dari Pekanbaru akhirnya membuat salah seorang warga luluh dan mau membantu kami dengan mengantarkan hingga pintu masuk hutan air terjun, tetapi kami selanjutnya tidak ditemani dan harus pulang sendiri.

Keputusan tersebut pun kami ambil dan kami jalani. Kami pun memulai kembali perjalanan dengan melewati jalan alternatif tersebut. Benar saja, beberapa kali saya dan Ory serta bang Anton harus terpeleset karena jalan tahan kuning yang lecet, bahkan bang anton sampai terjatuh. Sedangkan warga yang menjadi guide kami masih terus di depan dengan motor trailnya. Kami terus berhati-hati dan harus mengingat jalan tersebut, sebab jalan perkebunan baru tersebut sangat luas dan memiliki banyak ruas. Siapa pun bisa tersesat di lokasi ini.

Bersusah payah hingga kembali masuk hutan sawit lebat hingga sampai penurunan terjal tanah kuning dan berhasil membuat motor kami terjebak. Ory harus turun dan bang anton beberapa kali terjatuh terpeleset. Tak menyerah dengan hati-hati kami mengikuti abang guide kami. Sampai pada akhirnya menju jalan yang lebih sempit dan buntu. Jalan buntu tersebut merupakan pintu masuk, dan kami harus meninggalkan motor untuk sementara lalu dilanjutkan dengan trekking.

Abang yang saya lupa namanya tersebut juga memberi tahu kami jika ada apa-apa segera hubungi nomornya, saya pun juga berikan uang rokok meski abang itu tak mau.

Pesona Biru Air Terjun Sipagogo

Alhamdulillah, kami bertiga serentak menguap saat itu seabgai tanda syukur kami sudah sampai di depan pintu masuk destinasi itu. Bismillah !! kamipun memulai perjalanan trekking kami menuju riam indah itu.

Air Terjun Sipagogo Ujung Gading Pasaman Barat
Luar Biasa

Suara-suara burung, dan cuaca sendu menemani perjalanan kami. Medan jalan terus turun ke bawah, terlihat pula bekas pos-pos saat destinasi ini ramai. Namun saat kami lewati sangat sepi, hanya kami bertiga dengan nafas ngos-ngosan.

Rumput-rumput dan batang-batang pohon kecil banyak menutupi jalur yang telah lama dibuat dan perlu hati-hati agar tak tersesat. Satu hal yang tidak kami perhitungkan adalah banyaknya pacet yang naik ke kaki kami. Tiba-tiba sudah berdarah dan bertanda saja oleh gigitan pacet. Otomatis selain melihat medan jalan, juga was-was dengan pacet.

Hampir setengah jam kami berjalan kaki, sampai akhirnya menemui 2 ruas jalan, dimana 1 mendaki dan 1 menurun. Karena suara merdu air terdengar dekat, maka kami teruskan memilih jalan menurun. Tak lama kami menemukan sungai yang sangat bersih. Tapi tak terlihat dimana air terjunnya berada.

Masih bingung hingga kami sedikit berpencar tapi tak jauh, sampai melihat aliran sungai yang lain. Dan benar saja, di ujungnya terlihat air terjun indah tersebut.

Sambil tetap was-was dengan pacet kami pun segera menuju lokasi melewati batu-batu dipinggiran sungai.

Jujur saja dari jarak jauh terlihat saya sudah sangat terpesona hingga saya sampai lebih dekat dengan air terjun Sipagogo. Warna birunya asli mampu membuat lelah kami sedikit hilang, belum lagi angin kencang akibat derasnya air yang turun ke bawah kolam tersebut.

Sambil beristirahat, beberapa dari kami mulai mendokumentasikan kegiatan kami di sana. Saya sendiri masih sibuk membersihkan bekas pacet dikaki saya dan mencari dedaunan yang bisa memberhentikan darah keluar di kaki saya.

Air Terjun Sipagogo Ujung Gading Pasaman Barat
Mandi donk

Mandi gak ? Mandi donk, malahan cuma saya dan bang Anton saja yang mandi. Aliran air yang cukup deras membuat saya lebih berhati-hati untuk ke tengah. Belum lagi batu-batu sungainya licin membuat saya terpeleset. Airnya sangat dingin ditambah udara sejuk hutan Situak mampu membuat saya kedinginan.

Air Terjun Sipagogo Ujung Gading Pasaman Barat
bang Anton bersantai

Tak lama cuaca mulai berubah dan terlihat akan hujan. Saya dan teman-teman bergegas segera balik ke perumahan pekebun sawit. Setelah membuat dokumentasi baik di kamera DSLR ataupun kamera ponsel kami pun segera naik. Jalan mendaki jauh lebih sulit dengan pakaian basah, belum lagi sisa-sisa pengalaman saat mendaki gunung Kerinci hilang dikikis lemak, mau tak mau saya ngos-ngosan terus.

Berjuang Untuk Pulang

Sulitnya ketika sampai masuk di pintu air terjun, ternyata sebaliknya lebih sulit lagi lebih pulang. Rintik hujan mulai turun membasahi hutan Situak, seakan memberi kami tanda untuk lebih segera pulang.

Sampai di pintu masuk, kami langsung bergegas menghidupkan motor lalu berjalan pulang. Sampai kami ketemu dengan tanjakan tanah kuning yang membuat bang Anton jatuh sebelumnya. Pendakian itu jujur saja sangat sulit karena tanah kuning ditemani hujan. Jalan itu menjadi becek dan sangat licin, boro-boro bisa setengah pendakian, kami terus terpeleset bahkan motor bang Anton cedera (bocor) pada ban motornya.

Saya kembali mencoba menggeber, kali ini Ory turun dan perlahan saya berhasil mendaki jalan tanah kuning menanjak tersebut. Bang Anton masih berkutat dengan motornya yang tak bisa lagi maksimal mendaki, saya pun turun ikut membantu mendorong. Tapi kenyataannya sangat sulit dan perlu perjuangan ekstra.

Air Terjun Sipagogo Ujung Gading Pasaman Barat
Jalur jalan yang tertutup kabut

Itu baru satu fase yang sudah berhasil kami lewati, sedangkan untuk menuju perumahan pekebun sawit itu masih jauh. Hujan terus turun dan tak lama membuat kawasan jalan alternatif tersebut ditutupi kabut tebal. Keadaan yang sepi sempat membuat kami sedikit takut dan bimbang.

Air Terjun Sipagogo Ujung Gading Pasaman Barat
Tertutup kabut menjadi sepi tanpa ada dirimu

Kami terus mencoba berjalan, tetapi setiap jalan menanjak berbukit, kami lagi lagi harus jatuh dan terpeleset. Motor bang Anton yang bocor turut membantu kami untuk menguras tenaga dalam perjalanan tersebut. Kami sempat mencoba minta tolong lewa nomor ponsel yang diberikan tadi, dan ternyata abang guide tadi sudah berada di daerah pasar Situak yang tentu saja jauh.

Mau tak mau kami harus berusaha maksimal untuk keluar di kawasan jalan alternatif ini. Bahu membahu kami mendorong motor dan berhati hati. Selama itu pula kami acap kali terpeleset, kecuali Ory yang tidak membawa motor. Motor pun sedah tebal dengan lumpur kuning, harus putar otak melewati jalan yang sedikit lebih kasar. Penunjuk bahan bakar pun sudah mendekati garis merah, turut menyumbang kekhawatiran kami.

Air Terjun Sipagogo Ujung Gading Pasaman Barat
Beristirahat sejenak

Entah 1 jam atau bahkan mungkin 2 jam kami melalui jalur parah tersebut. Ya.. mau bagaimana, kalau tidak begini tak tau rasanya bagaimana berpetualang itu dan mendapatkan pengalaman istimewa.

Pada akhirnya, alhamdulillah dari kejauhan kami melihat pemukiman pekebun sawit tadi. Semakin semangat, berharap ada jual bahan bakar dan tambal ban. Perjalanan ini memang lebih sangat sulit jika dibandingkan dengan saat kami menjelelajah air terjun Lubuak Bulan Lima Puluh Kota.

15 menit sejak kelihatan pemukiman akhirnya kami sampai. Nampak warga tercengang dengan keadaan kami, sedangkan saya dan teman-teman sudah sangat lelah (apalagi tidak makan siang). Warga pun menyuruh kami untuk istirahat sejenak dan minum teh hangat.

Namun lagi-lagi sayangnya tidak ada tempel ban ataupun tambah angin, otomatis membuat pekerjaan bang Anton untuk bisa sampai di pasar Situak kembali menangtang. Sedangkan saya alhamdulillah mendapatkan bahan bakar untuk motor matic saya.

Tak ingin bertambah malam, kamipun segera pamit dari warga setempat, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju pasar Situak untuk memperbaiki ban motor bang Anton. Selama itu pula bang Anton harus rela ban tubeless nya rusak karena terpaksa terus berjalan motornya. Oh iya pulang ke pasar Situak lebih gampang jalurnya karena berbatu dan tanahnya tak seperti kawasan jalan alternatif tadi.

Setelah berhasil memperbaiki motor, kami pun segera pulang ke Matur, Kab. Agam dengan kondisi basah-basahan. Selama perjalanan kembali ke kampung saya, kami sempat juga untuk makan siang+malam di ibukota Pasaman Barat Simpang Empat.

Ada hikmah yang bisa saya petik selama perjalanan ini, usaha dan mencoba itu perlu plus harus mempersiapkan segala sesuatunya matang-matang. Sedangkan musibah itu pengalaman dan mengukur daya juang saya selama menjelajah. Namun bagi Ory, perjalanan seperti ini cukup sekali ini saja, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa kembali ke air terjun Sipagogo.

Tips traveler untuk menuju destinasi indah ini.

Ada bebrapa tips dan saran untuk teman-teman yang ingin mengunjungi air terjun ini. Dan ini murni berdasarkan pengalaman saya mengunjungi Sipagogo.

  1. Pastinya untuk melihat kondisi fisik dan mental baik dalam keadaan fit. Karena jalur jalan yang berat, berbatu dan terkadang licin. Kalau perlu berolahraga dulu agak seminggu hahahaha.
  2. Gunakanlah sepatu atau sandal gunung. Karena jalur ketika hujan sangat licin dan gampang membuat kita terpeleset. Gunakan pula celana tertutup yang bisa menutup kaki kita dari godaan pacet.
  3. Mempersiapkan bekal itu perlu, jangan kaya kami yang harus merapel makan siang dan malam. Jelas-jelas di hutan tak ada yang jualan. Kalau perlu bawa tumbler khusus, untuk airnya bisa meminum air sungai seperti yang kami lakukan. Oh iya airnya dingin kaya dikulkas jadi enak hahahaa.
  4. Jangan pernah datang ketika musim hujan tiba, bagusnya mulai dari bulan Maret ke atas. Kalau sudah hujan, aliran sungai lebih deras dan bisa membahayakan. Selain itu bisa membuat jalan lebih licin seperti yang kami rasakan.
  5. Seperti berjalan di destinasi manapun, jangan pernah meninggalkan sampah. Lestarikan alam jangan merusaknya.

Akhir kata mudah-mudahan pengalaman saya mengunjungi  air terjun Sipagogo Ujung Gading Pasaman Barat ini bisa membantu teman-teman yang ingin ke sana. Semua hambatan rintangan yang menemani saya terbayarkan dengan air terjun yang sangat luar biasa. Saya juga berharap pemerintah lokal bisa membangun infrastruktur bertahap (tapi jangan ditebas hutannya) dan nantinya bisa menambah ekonomi ataupun pendapatan lokal. Oh iya selain Sipagogo, tempat wisata Pasaman Barat ada juga Air Terjun Batang Nango.

15 replies on “ Perjuangan!!, Air Terjun Sipagogo Ujung Gading Pasaman Barat ”
  1. wuah ada trackingnya ya mas. kebayang abis tracking kan capek, eh ngelihat air terjuan yg luarbiasa masyaAllah viewnya, hilang semua rasa capek krn tracking itu

  2. Ya ampun perjuangan banget berangkat dan pulang nya Kak hehe. Salut deh demi menikmati ciptaanNya yang indah. Tapi bener2 luar biasa viewnya. Baguuuuus indah mempesona. Ah jadi pengen liburan ke alam juga nih. Semoga bs jalan2 lagi setelah ini, amin.

  3. Aku selalu takjub dengan air terjun, bikin segar mata, apalagi liat langsung. Sayangnya sekarang ga kuat main air di air terjun, sering menggigil parah. Paling cuma menikmati suasana dan pemandangan sekitar saja. Abis itu buru² pulang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *