Tersembunyi dan Indahnya Tempat Wisata di Kerinci Danau Kaco

Pernahkah mendengar Danau Kaco yang merupakan destinasi dan tempat wisata kerinci yang memiliki daya tarik tersendiri.

Kabupaten Kerinci yang letaknya paling barat di dalam kawasan Provinsi Jambi ini nyatanya mempunyai berbagai destinasi dan keindahan alam yang sangat luar biasa. Mulai dari gunung, air terjun, kebun teh hingga danau. Berbicara tentang destinasi indah ini pula, ada sebuah danay yang letaknya tersembunyi dan memiliki keindahan di bandingkan beberapa danau yang ada di Kerinci. Dengan nama Danau Kaco yang terletak di Desa Lempur, Kecamatan Gunung Raya Kab. Kerinci.

Tersembunyi dan Indahnya Tempat Wisata di Kerinci Danau Kaco
Indahnya dengan warna biru dan jernih

Telaga unik bewarna biru dan bening bak kaca ini berada di area Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang memang menjadi situs warisan UNESCO. Tak banyak juga yang tau, berapa kedalaman yang dimiliki telaga mungil ini, iya mungil karena ukurannya tidak sebesar danau – danau lainnya yang ada di Indonesia. Dengan luas sekitar 90 meter persegi saja, perairan biru ini berada pada ketinggian 1289 meter diatas permukaan laut. Belum lagi dengan kecocokan dan kontras dengan warna alam di sekitar telaga. Indahnya jika malam hari bisa memancarkan cahaya terang, dan bisa terus semakin indah dan terang jika bulan purnama terjadi. Selain itu, habitat lokal danau ikan semah siap menunggu kamu untuk ikut berenang di dalamnya.

Tersembunyi dan Indahnya Tempat Wisata di Kerinci Danau Kaco

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya pada artikel mendaki gunung Kerinci, perjalanan saya juga di mulai dari home stay paiman, tempat saya beristirahat selama di Kerinci. Bersama teman-teman yang sama, saya melanjutkan perjalanan ke desa Lempur dimana destinasi yang kami tuju berada.

Persiapan kamipun tanpa menggunakan carrier seperti saat menjelajah danau gunung tujuh, hanya dengan menggunakan celana panjang plus di dalam dengan celana pendek. Selain itu saya menutup rapat-rapat bagian kaki dan celana panjang saya, sebab menurut penuturan warga lokal, jika jalur ataupun medan perjalanan banyak pacet dan lintah.

Untuk bisa sampai ke desa Lempur membutuhkan waktu sekitar 3 – 4 jam menggunakan mobil dan juga tergantung kemacetan jalan selama perjalanan. Dalam perjalanan kami melewati ibukota kabupaten Kerinci, juga melihat secara langsung danau Kerinci yang luas. Dalam perjalananpun saya praktis cuma tidur-tidur ayam saja sambil menunggu sampai di lokasi. Apalagi dengan kondisi tubuh yang terus digeber beberapa hari ini tentunya akan berdampak pada perjalanan ataupun hiking yang saya lakukan nanti.

Tak lama kamipun sudah bisa melihat papan informasi penunjuk jalan yang menjelaskan jika kami sudah sampai di desa Lempur. Sisanya tetap saja kami menggunakan google maps seperti yang sudah-sudah. Hingga pada akhirnya kami juga bertanya dengan beberapa warga lokal perihal posisi memulai trekking ke tempat wisata di Kerinci, danau Kaco.

Setelah beberapa kali mendapatkan informasi yang real akhirnya kami sampai di titik memulai trekking di desa Lempur. Dengan memarkirkan mobil sebelumnya di sebuah bendungan didekat perkebunan warga. Dari kejauhan tampak medan jalan sedikit mendaki namun masih stabil. Kami pun memulai perjalanan dengan trekking menuju telaga biru itu.

Tersembunyi dan Indahnya Tempat Wisata di Kerinci Danau Kaco
Ada Tugu

Melewati perkebunan warga sekitar plus hutan – hutan rimbun dengan medan jalan aspal yang telah rusak dan berbatu. Jalan terus ke depan hingga 15 menit dan medan aspal berbatu tadi berakhir tepat pada sebuah tugu bambu.Jalan aspal rusak ini pun berakhir di sebuah tugu seperti bambu. Dari tugu ini medan jalan yang kami lalui berubah menjadi jalan tanah becek dan licin, dan tetap dengan keadaan mendaki walaupun tidak terjal.

Terus mengikut jalan licin tersebut hingga beberapa kali pula saya dan beberapa teman ikut terpleset dan terkena lumpur. Tujuan kami yang terdekat tentu saja shelter 1. Hampir satu jam pula saya dan beberapa teman sampai di titik ini. Tak ingin ketinggalan, sama seperti saat menjajal gunung tujuh, saya minta izin untuk jalan duluan sendiri untuk bisa sampai di tempat wisata di Kerinci ini.

Dengan percaya diri plus segala keberanian yang saya kerahkan, saya lanjutkan perjalanan dengan mengikuti arah panah yang ada pohon – pohon dalam medan jalan ini. Saat itu pula saya bisa sedikit bersantai, bernyanyi sendiri, sambil pula mendengarkan nyanyian burung – burung dengan lagu rocknya. Yang saya lakukan hanya berjalan lalu berhenti sebentar kemudian melanjutkan dengan berjalan lagi dan lagi-lagi berhenti. Capek dan penat karena fisik saya sudah mulai terkuras hebat. Terus maju lalui medan pertempuran dengan positif thinking.

Tak sadar beberapa lama akhirnya saya sampai di shelter 2 dengan ditandai banyaknya jalan yang becek. Saya tak ingat lagi saat itu berapa lama perjalanan saya untuk bisa sampai di shelter 2. Jalanan becek dan berlumpur benar-benar berpengaruh dengan kondisi saya. Celana panjang yang saya gunakan sudah terlihat kumal dan penuh tanah, belum lagi sepatu gunung yang saya gunakan terisi maksimal dengan lumpur.

Tapi jujur saja saya harus melanjutkan perjalanan dan mengikuti teman-teman saya yang ada di depan saya sebelumnya. Masih dengan kondisi hutan yang sepi, lembab dan becek, saya terus melanjutkan trekking untuk bisa sampai ke telaga unik ini. Hutan-hutan lebat seketika berubah dengan banyaknya hutan bambu. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menyebrang sebuah sungai kecil. Untuk menyebrang kita harus melewati sebuah jembatan bambu yang rasanya mengkhwatirkan. Dan benar saja, saat saya menyebrang saya kepleset dan untungnya tidak ada orang yang menertawakan saya saat itu. Dan lebih untungnya lagi saya tidak membawa smartphone ataupun kamera, kalau tidak habislah.

Setelah kejadian terpleset tersebut, sekitar satu atau satu setengah jam berjalan kaki akhirnya saya sampai. Bergegas mengikuti arahan teriakan teman-teman yang sudah dulu sampai di lokasi. Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya saya tekan tombol turbo pada tubuh saya, dan dengan nafas terengah engah akhirnya saya sampai Danau Kaco yang tersembunyi.

Tersembunyi dan Indahnya Tempat Wisata di Kerinci Danau Kaco
Abaikan perut yang besar, fokus ama yang di belakang

Teman-teman yang sudah sampai tampak beristirahat dan terkapar sambil menikmati birunya telaga unik ini. Rasanya tak percaya jika saya telah sampai di destinasi impian kami. Saya pun terduduk dan sangat bahagia. Beberapa traveler lain juga sudah berada di lokasi ini, dengan mulai berenang, makan dan hal-hal lainnya.

Dengan tekad ingin berenang, saya bergegas membersihkan celana dan sepatu saya yang terkena lumpur. Pada saat itu juga beberapa teman juga bertugas memasak untuk makan siang kami. Setelah membersihkan usai, dengan menggunakan celana pendek akhirnya saya bisa mencoba merasakan jernihnya, dinginnya dan beningnya air danau ini.

Tersembunyi dan Indahnya Tempat Wisata di Kerinci Danau Kaco
berfoto bersama

Sambil berenang saya juga melihat banyak ikan – ikan kecil yang berlalu lalang membicarakan kami yang mana juga menambah eksotisnya telaga biru ini. Sambil menyelam saya mencoba mengukur berapa kedalaman dari perairan ini dan hasilnya tidak tamak ujung dari danau ini. Mau tak mau saya tidak ingin melanjutkan mencari berapa kedalaman dan mending menikmati dengan berenang saja.

Tersembunyi dan Indahnya Tempat Wisata di Kerinci Danau Kaco
Ada perut saya sedikit

Saya juga sempat mengobrol dengan beberapa traveler dari dari daerah lain yang juga datang. Dari obrolan tersebut diketahui bahwa perairan unik ini secara ilmiah mengenai perubahan warna air sejumlah danau di dunia. Bisa saja dipengaruhi oleh banyaknya kandungan mineral, jenis-jenis lumut, dan adanya batu-batuan di dalam kolam biru unik ini. Ada juga yang mengatakan jika perubahan warna air pada kolam jernih ini juga diakibatkan sebagai dampak dari adanya proses unsur kimia pada tanah. Well.. saya tidak tau begitu pasti, yang jelas ketika saya mengambil beberapa air di tangan saya, air itu tidak berwarna biru, tetapi jernih.

Tersembunyi dan Indahnya Tempat Wisata di Kerinci Danau Kaco
Menikmati dan bersantai

Setelah puas berenang dan bisa makan menikmati mie instan plus nasi yang ada, saya dan teman-temanpun bergegas untuk segera kembali karena hari semakin sore. Dalam perjalanan pulang kamipun diiringi dengan awan gelap. Untuk bisa sampai di titik awal atau pulang, waktu tempuh lebih cepat. Jika untuk berangkat mulai trekking bisa menghabiskan waktu lebih kurang 3  – 4 jam, waktu untuk pulang bisa lebih cepat menjadi, 2 – 2.5 jam saja. Karena medan jalan pulang yang terus menurun, sehingga bisa berlari sambil tetap berhati – hati karena lumpur, becek, licin, pacet yang terus senantiasa mendampingi.

Ada yang lebih unik ternyata. Saat saya sampai di bendungan tadi untuk beristirahat sambil menunggu teman – teman yang lain saya sempat berbincang dengan warga lokal yang kebetulan ada disana tentang asal mulai danau kaco.

“Bermula dengan hadirnya sebuah cerita seorang putri yang cantik nan ingin dipinang oleh banyak pemuda. Tanpa ragu banyak pemuda yang ingin meminang menitipkan bebatuan mulia pada Raja Gagak, ayah sang putri cantik. Akan tetapi, dengan banyaknya bebatuan mulai membuat keserakahan hadir dalam pikiran Raja Gagak. Raja dengan tega menodai putrinya sendiri. Selanjutnya, putri yang sudah ia nodaipun dibenamkan ke dalam danau beserta harta pinangan tersebut”.

Tentunya terlepas cerita yang saya dapat itu cuma mitos ataupun memang benar, ada pelajaran yang sesungguhnya bisa didapat. Hendaknya kita seharusnya mampu menjaga keindahan alam yang ada di kawasan ini sehingga tetap nyaman, asri dan ramah. Menjaga dan melestarikan itu tak mudah, apalagi ini semua demi tempat wisata di Kerinci yang anggun dan bersih. Danau Kaco yang tak akan terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *