Skip to content

Solo Traveling vs Open Trip: Kenapa Saya Lebih Suka Jalan Sendiri?

“Ndrew, kok berani sih jalan sendirian ke luar negeri? Nggak takut nyasar? Nggak kesepian? Kenapa nggak ikut Open Trip aja biar terima beres?”

Pertanyaan semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari di kolom DM Instagram saya atau saat ngobrol santai di kedai kopi Pekanbaru. Wajar sih, bagi sebagian orang, konsep pergi ke tempat asing sendirian itu terdengar menyeramkan atau merepotkan (pastinya).

Zaman now, godaan Open Trip itu luar biasa. Tinggal transfer uang, duduk manis di bus atau pesawat, diantar ke semua spot foto viral, makan diatur, dan pulang bawa stok foto kece. Praktis, kan?

Tapi, kalau kamu tanya saya sekarang dalam perdebatan Solo Traveling vs Open Trip: “Andrew, pilih mana?” Jawaban saya tegas: 90% Hati saya milik Solo Traveling.

Bukan berarti saya anti sama Open Trip (nanti saya ceritakan kapan saya memilih Open Trip), tapi ada kenikmatan “hakiki” dari jalan sendirian yang sulit dijelaskan kalau belum dicoba sendiri.

Berikut adalah alasan jujur kenapa saya lebih memilih menjadi Lone Wolf saat menjelajah, beserta suka dukanya.

1. Kebebasan Waktu adalah Kemewahan Mutlak

Solo Traveling vs Open Trip

Di Open Trip, itinerary adalah “Kitab Suci” yang haram dilanggar. “Jam 07.00 kumpul di lobi. Jam 08.00 foto di patung singa (durasi 15 menit). Jam 08.15 harus naik bus lagi.”

Jujur, gaya traveling seperti mengejar setoran ini bikin saya lelah (apalagi saya gendut). Saya tipe orang yang kalau sudah nyaman di satu tempat, saya bisa lupa waktu.

Baca Juga :  Jangan keliru! Ini Beda Trekking dan Hiking yang Harus Diketahui

Saat Solo Traveling, saya adalah bos untuk diri saya sendiri. Saya pernah punya pengalaman saat berkunjung ke Penang. Niat awalnya mau keliling pantai, eh malah nyangkut di sebuah coffee shop tua yang suasananya tenang banget. Akhirnya? Saya habiskan waktu 3 jam di sana cuma buat ngopi, bengong, dan ngobrol sama pemilik kedai (meski agak susah karena logat chinese-nya). Kalau ikut tur, mana bisa begitu? Pasti sudah diteriaki pemandu wisata suruh naik bus dan harus lanjut ke lokasi selanjutnya.

Kebebasan untuk bangun siang, mengubah rencana dadakan karena hujan, atau sekadar leyeh-leyeh di taman kota tanpa dikejar waktu, itulah kemewahan yang tak ternilai harganya.

2. Seni “Nyasar” dan Menemukan Hidden Gem

Kalau ikut rombongan, kita dijaga ketat supaya tetap di jalur yang benar. Aman memang, tapi… membosankan. Bagi saya, nyasar adalah bagian terbaik dari petualangan.

Ada sensasi deg-degan campur excited saat kita salah belok di gang kecil, tapi justru malah menemukan pemandangan luar biasa yang nggak ada di Google Maps.

Pernah suatu saat saya bingung ketika ingin melalui jalan mana di Singapura, yang mana penyebabnya koneksi google maps hilang timbul. Awalnya panik, tapi di ujung jalan itu saya malah menemukan warung makan lokal yang isinya warga asli semua, harganya murah, dan rasanya juara dunia.

Momen-momen serendipity (kebetulan yang menyenangkan) ini mustahil terjadi kalau rute kita sudah di-setir oleh agen travel dari A sampai Z.

3. Interaksi yang Lebih “Daging”

Antara Solo Traveling vs Open Trip. Ini sebuah paradoks perjalanan:

  • Saat Open Trip, kita dikelilingi banyak orang, tapi interaksi kita biasanya hanya berputar di sesama peserta trip (yang notabene orang Indonesia juga). Kita seperti memindahkan “tongkrongan Jakarta/Pekanbaru” ke luar negeri.
  • Saat Solo Traveling, karena sendirian, tembok pertahanan kita jadi lebih rendah.
Baca Juga :  Singapore Public Holiday 2026: Kalender Libur & Strategi Cuti buat "Long Weekend" Maksimal!

Kondisi sendirian “memaksa” saya untuk membuka diri. Saya jadi lebih sering menyapa warga lokal buat tanya jalan, atau kenalan sama traveler lain di hostel. Yaa meski kadang kala kendala bahasa menjadi problem yang pada akhirnya kembali “memaksa” diri keluar dari zona nyaman.

Obrolan dengan orang asing yang budayanya beda banget inilah yang seringkali membuka mata. Saya jadi tahu perspektif politik di negara mereka, atau sekadar tahu mana sambal yang paling enak menurut lidah lokal. Pulang-pulang, saya nggak cuma bawa oleh-oleh barang, tapi juga oleh-oleh cerita dan teman baru.

Tapi Tunggu, Ada Saatnya Open Trip Itu Juara! (Studi Kasus: Labuan Bajo)

Apakah Andrew anti Open Trip? Sama sekali tidak. Sebagai traveler yang realistis, saya sadar ada destinasi tertentu yang hampir mustahil (atau sangat mahal) kalau dihajar sendirian.

Contoh paling nyata adalah pengalaman saya saat ke Labuan Bajo.

Waktu itu saya ingin merasakan sensasi Live on Board (menginap di kapal) keliling pulau-pulau Komodo. Coba bayangkan kalau saya maksa Solo Traveling:

  1. Harus sewa satu kapal Phinisi sendirian? Harganya bisa puluhan juta (kecuali saya Sultan, hehe).
  2. Urusan perut di tengah laut siapa yang urus?

Di kasus seperti inilah, Open Trip adalah Penyelamat. Dengan ikut Open Trip Labuan Bajo, saya bisa patungan sewa kapal mewah dengan harga terjangkau. Di atas kapal Phinisi itu, mau nggak mau kita berbaur dengan peserta lain. Makan bareng di meja panjang, berjemur bareng di dek, dan trekking bareng ke Pulau Padar.

Dalam situasi urusan perut yang rumit dan mahal seperti Labuan Bajo, Sumba, atau pendakian gunung ekstrem, Open Trip adalah pilihan yang cerdas dan efisien. Jadi, kuncinya adalah: Lihat Destinasinya.

Baca Juga :  Peta Air Minum Gratis di Singapura: Jangan Beli Air Mineral!

Suka Duka Solo Traveler (Biar Adil)

Solo Traveling vs Open Trip
Terkadang fotonya jadi burem kalau sendiri

Supaya artikel Solo Traveling vs Open Trip ini berimbang, saya nggak mau cuma cerita manisnya. Jalan sendirian itu juga punya sisi pahit yang harus kamu siapin mentalnya:

  1. Biaya Kadang Lebih Mahal (Single Supplement): Nggak ada teman buat share cost taksi atau sewa kamar hotel. Solusinya? Saya sering pilih menginap di Hostel atau rajin cari promo hotel budget di aplikasi travel. Untuk transportasi jelas saya menggunakan transportasi umum seperti MRT atau bus. Kalau lah tidak ada 2 opsi tersebut, saya pakai ojek lokal saja.
  2. Momen Kesepian: Ada kalanya kita lihat sunset yang indah banget, terus refleks mau bilang “Woi gila keren banget!”, eh pas nengok samping… kosong. Cuma bisa ngomong sama kamera HP. Itu rasanya agak sepi sih. Apalagi semenjak duda ini selalu jalan sendiri. SAD
  3. Susah Foto Diri: Ini kendala klasik. Susah dapat foto OOTD yang proper kecuali kamu bawa tripod, punya drone, atau tebal muka minta tolong orang lewat (yang hasilnya untung-untungan, kadang nge-blur, kadang kepalanya kepotong). Tapi ya selama ini saya tetap bawa tripod dan minta tolong ke traveller lainnya dengan feedback saya foto mereka juga.

Kesimpulan: Solo Traveling vs Open Trip Mana yang Cocok Buat Kamu?

Jadi, lebih baik mana? Jawabannya kembali ke prioritas kamu saat itu.

Pilihlah Open Trip jika: Kamu sibuk dan nggak punya waktu riset, destinasinya sulit diakses sendirian (seperti Labuan Bajo), atau kamu tipe yang suka keramaian dan takut kesepian.

Cobalah Solo Traveling jika: Kamu menghargai kebebasan mutlak, ingin mengenal diri sendiri lebih dalam, dan siap dengan segala kejutan entah itu baik yang manis maupun yang bikin nyasar.

Buat saya, meski kadang sepi dan capek urus semua sendiri, kepuasan batin saat berhasil menaklukkan tempat baru sendirian itu… addictive banget. Rasa percaya diri saya naik drastis setiap kali pulang ke Pekanbaru.

Bagaimana dengan kamu? Tim Solo Traveler garis keras atau Tim Open Trip terima beres? Yuk, diskusi di kolom komentar!

Content Protection by DMCA.com

1 thought on “Solo Traveling vs Open Trip: Kenapa Saya Lebih Suka Jalan Sendiri?”

  1. 90%aku lebih senang solo daripada OT, 9% punya teman jalan 1 orang dah cukup, kalo OT terpaksa pake banget lah, jika memang tak ada pilihan memang harus ikut. ,misal Labuan bajo itu kan terpaksa OT. karena sendiri sewa kapal juga kagak mungkin, darimana duitnyaaaaaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *